Agar Properti Tetap Laris di Tengah Perubahan


Depok – Selain pangan dan sandang, tempat tingggal alias papan adalah keebutuhan utama manusia. Karenanya, memiliki rumah dengan cara tunai, sewa maupun kredit melalui bank merupakan sebuah keharusan.

Seiring dengan terus bertambahnya jumlah penduduk, hingga saat ini kebutuhan tempat tinggal atau hunian masih sangat tinggi. Kondisi ini langsung direspon oleh pengembang properti dengan menawaran berbagai produk terbaik, yang diharapkan dapat diterima pasar.

Lantaran besarnya potensi pasar hunian di dalam negeri, dari waktu ke waktu jumlah pengembang properti dengan aneka ragam produknya pun mengalami pertumbuhan sangat signifikan. Alhasil, kompetisi bisnis yang sengit di antara mereka tak lagi terelakkan.

Tak pelak, berbagai strategi pemasaran mulai dari kemudahan transaksi, program diskon, sampai hadiah langsung terus dilancarkan oleh pengembang properti guna memikat konsumen. Sehingga, unit-unit hunian yang dipasarkan laris manis.

Idealnya, saat kebutuhan terus meningkat ditambah aneka ragam pilihan serta berbagai kemudahan transaksi yang ditawarkan pengembang, penjualan hunian laris manis bak kacang goreng. Namun, harapan dan kenyataan memang terkadang tak selalu seiring sejalan. Ini merupakan bagian dari resiko yang harus ditanggung pelaku usaha, tak terkecuali properti development.

Praktisi Branding Properti Widodo mengatakan, hal itu terjadi lantaran kondisi ekonomi global sedang kurang menguntungkan ditambah sikap sebagian masyarakat cenderung wait and see hingga selasai pemilu legislatif maupun presiden. Akibatnya, pilihan produk bagi konsumen pun melimpah ruah.Untuk menyiasati kondisi tersebut tentu dibutuhkan strategi – strategi khusus sesuai tren perilaku konsumen. Selain tetap menjalankan aktivitas promosi konvensional. Antara lain melakukan interaksi langsung dengan masyarakat calon konsumen.

“Yakinkan masyarakat dengan mengajaknya ke lokasi proyek untuk merasakan experience (pengalaman) langsung tentang kelebihan dan keuntungan yang akan didapat jika mereka membeli apartemen atau hunian kita. Selain itu, lebih gencar menggelar pameran di lokasi – lokasi yang dekat dengan tempat tinggal calon pembeli,” sarannya.

Bukan itu saja, hubungan dengan media pemberitaan juga harus dibina dengan baik. Sebab, media inilah yang nantinya akan menyampaikan berbagai informasi seputar progres pembangunan maupun kegiatan promosi ter-up to date. “Idealnnya team marketing communication dapat men-develop & distribution press release untuk diberitakan tiap bulan. Tujuannya, agar masyarakat tahu bahwa produk properti yang sedang kita pasarkan masih eksis,” imbuhnya.

Setelah strategi marketing baik konvensional maupun khusus dilancarkan, maka hal paling penting adalah meningkatkan kemampuan tim sales (penjualan). Mereka, harus benar – benar mampu mengkomunikasikan langsung tentang keunggulan produk yang ditawarkan dengan baik kepada konsumen.

“Agar tercipta sales yang bagus harus sering diadakan coaching ataupun training secara rutin mengenai detail produk apartemen yang akan dipasarkan. Selanjutnya, jangan segan memberikan reward sebagai motivasi bagi mereka yang berhasil,” sambung Widodo.

Menurut dia, sekarang sudah bukan eranya rutinitas marketing seperti beriklan di media cetak, TV, radio, online maupun pasang spanduk atau bilboard pada media luar ruang, langsung dapat respon dari konsumen. Lalu, jumlah telepon masuk (call in) atau kehadiran mereka ke kantor pemasaran (walk in) meningkat signifikan.

“Aktivitas – aktivitas seperti itu memang perlu tetap dilakukan. Tapi, harus mempertimbangkan segmentasi pasar yang akan dituju. Karena aktivitas tersebut hanya awareness untuk lebih memperkuat informasi program promosi yang sedang berjalan,” pungkas Widodo.

Komentar Anda
5 recommended
comments icon 0 comments
23 views
bookmark icon

Write a comment...