Akhir Tahun, OJK Optimis P2P Lending Tembus Rp20 T


Bogor – Seiring pesatnya financial technology (fintech), kredit online P2P lending terus mengalami pertumbuhan signifikan. OJK optimistis hingga akhir tahun, penyaluran kredit flatfom fintech tersebut bisa menembus angka Rp18 triliun hingga Rp20 triliun.

Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Financial Technology Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hendrikus Passagi menyebut, kredit peer to peer (P2P) lending mencapai Rp11,86 triliun per Agustus 2018, dengan jumlah nasabah 5,7 juta yang tersebar di seluruh Indonesia dan mayoritas berasal dari Pula Jawa.

Menurut dia, saat ini Fintech P2P Lending menjadi inklusi keuangan yang semakin diminati masyarakat. Layanan jasa keuangan ini mempertemukan pemberi pinjaman dengan penerima pinjaman dalam rangka melakukan perjanjian pinjam meminjam melalui sistem elektronik dengan menggunakan jaringan internet. Selain itu, untuk mengurusi perizinan P2P semakin mudah. Apalagi OJK sudah menyusun beberapa peraturan agar tidak merugikan nasabah.

“Perusahaan Fintech yang sudah terdaftar diberikan kewenangan beroperasi di seluruh Nusantara dalam waktu temporer, maksimum satu tahun, sementara mereka yang sudah berizin bersifat permanen. Jadi sebelum layak permanen itu diuji dulu dan ini semakin kita permudah,” ujar Hendrikus, saat Pelatihan dan Gathering Media Massa, di Bogor, Sabtu (20/10).

Menurut Hendrikus, fintech P2P ini diminati dikarenakan bunga yang diberikan dan kemudahan peminjaman online yang membuat fintech P2P semakin terdepan. “Peer to peer lending itu demokratis, kalau soal bunga itu enggak bisa dibatasi. Kita harus bijak. Tapi yang penting itu kecepatan dan bunganya rendah,” jelasnya.

Komentar Anda
comments icon 0 comments
6 views
bookmark icon

Write a comment...