Amartha Salurkan Investasi Rp402,85 M ke Sektor UMKM


Jakarta – Memasuki usia yang ke-8 tahun, PT Amartha Mikro Fintek (Amartha ), pionir layanan fintech Peer-to-Peer (P2P) Lending sukses mengelola serta menyalurkan dana investasi sebesar Rp402,85 miliar kepada 104.537 UMKM khusus perempuan.

untuk usaha mikro yang telah resmi terdaftar OJK, menginformasikan bahwa hingga delapan tahun kehadirannya di industri teknologi finansial pembiayaan tanah air, Amartha telah mendapatkan kepercayaan dari para investor untuk mengelola dan menyalurkan dana investasi sebesar Rp402,85 Milyar kepada .

Penyaluran dana investasi disertai dengan program pembinaan strategis oleh perusahaan fintech yang telah resmi terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tersebut juga telah membantu meningkatkan pendapatan tahunan para mitra usaha mikro perempuan pedesaan hingga 41%. Alhasil, sekitar 50% dari penerima manfaat berhasil memperoleh penghidupan yang lebih baik.

CEO dan Founder Amartha Andi Taufan Garuda Putra mengkalim setelah delapan tahun pihaknya mampu memperoleh capaian membanggakan dalam menjembatani pendana di perkotaan dan perempuan di pedesaan yang ingin meningkatkan taraf hidup mereka dan keluarganya.

“Amartha berhasil berinovasi menjadi perusahaan peer to peer lending yang memanfaatkan teknologi finansial. Komitmen kami dalam menyediakan rasa aman bagi pendana dan penerima dana juga tercermin dari penerapan sistem manajemen keamanan informasi berstandar ISO 27001,” tuturnya, saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (22/5).

Dijelaskan Taufan, guna membangun kredibilitas dan reputasi investasi yang dikelolanya, Amartha mengembangkan program pengelolaan serta penyaluran investasi melalui progam pembinaan tepat guna berdasarkan survei dan studi mendalam tentang kebutuhan maupun tantangan masyarakat prasejahtera dalam melawan kemiskinan.

Berkat kajian dan pendekatan yang tepat, para mitra usaha mikro perempuan yang didukung Amartha mampu membangun reputasi mereka sebagai peminjam modal tepercaya bagi para investor. Dimana, tingkat ketepatan waktu pembayaran mereka yang berada di atas 99,84%.

Amartha juga telah menerapkan sistem manajemen keamanan informasi berstandar ISO 27001, kerangka kerja kebijakan serta prosedur yang mencakup beragam kontrol, mulai dari kebijakan keamanan informasi, pengelolaan aset, transfer data dan komunikasi dengan keamanan terjamin.

“Adapun jaminan keamanan diberikan kepada rekanan/mitra dan pihak ketiga, pengelolaan insiden, keberlangsungan usaha dan disaster recovery, hingga kepatuhan terhadap regulasi yang harus dipenuhi,” imbuhnya.

Taufan berharap, kuatnya komitmen Amartha seperti yang tercermin dari diraihnya sertifikasi ISO 27001 serta kinerja positif para mitra pengusaha mikro perempuan, akan semakin menguatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya guna mendukung pertumbuhan usaha dan peningkatan kesejahteraan mereka.

Keberhasilan lain adalah pencapaian Social Return on Investment (SROI) atau dampak sosial dari pembiayaan yang tinggi, mencapai 98% per tahun. Tingginya SROI yang diberikan kepada para pengusaha mikro perempuan juga diharapkan akan semakin menambah kepercayaan investor maupun calon investor terhadap investasi yang dikelola Amartha.

“SROI tersebut jauh melampaui rata-rata SROI dunia yang tercatat sebesar 72,5%. SROI adalah sebuah studi analisa yang mengubah nilai beragam dampak sosial yang telah timbul berdasarkan indikator terpilih untuk menentukan kesejahteraan ekonomi, sosial, lingkungan, menjadi nilai mata uang. Hasil analisa SROI adalah rasio yang menunjukkan hubungan antara biaya investasi dengan dampak yang terhasilkan,” jelas Taufan.

Makna dari SROI 98%, lanjut dia, adalah bahwa di setiap rata-rata pinjaman sebesar Rp3 juta oleh Amartha secara langsung akan menciptakan dampak sosial senilai Rp5,94 juta dan berimbas pada peningkatan kesejahteraan yang lebih baik. Hal ini terindikasi dari kepemilikan aset mereka berkembang, tingkat pendidikan anak dan kesehatan lebih baik, kepemimpinan dalam keluarga, hingga hubungan antar individu yang lebih berkualitas.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Perizinan dan Pengawasan Fintech Direktorat Kelembagaan dan Produk Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Alvin Taulu mengungkapkan, Pemerintah menyambut baik keberadaan perusahaan teknologi finansial seperti Amartha yang mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatkan literasi dan inklusi keuangan. Perusahaan ini secara nyata mampu memberikan akses layanan keuangan bagi masyarakat Indonesia yang lebih dari 60% belum tersentuh layanan perbankan.

“Kami berharap, kontribusi Amartha akan turut memperkuat pilar edukasi keuangan, saluran distribusi keuangan, dan perlindungan konsumen, yang diperlukan untuk mendorong terwujudnya inklusi keuangan nasional yang oleh Presiden Joko Widodo ditargetkan mencapai 75% pada 2019,” ungkap Alvin Taulu.

Sementara itu Ekonom Institute for Development of Economics & Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, perusahaaan teknologi finansial peer-to-peer lending seperti Amartha telah membuktikan bahwa kemajuan teknologi dan inovasi di sistem jasa keuangan dapat menghasilkan cara-cara baru untuk mengembangkan sistem permodalan bagi unit usaha mikro yang seringkali kesulitan mendapat dukungan perbankan.

“Dengan mengusung konsep sharing economy, Amartha telah ikut berperan aktif dalam meningkatkan pemerataan ekonomi dan mengurangi kesenjangan ekonomi di perkotaan dan pedesaan. Harapannya dengan memberikan akses kepada permodalan dan edukasi literasi keuangan kepada mitranya, Amartha telah berkontribusi memperkuat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM),” pungkas Yudhistira.

Komentar Anda
2 recommended
comments icon 0 comments
19 views
bookmark icon

Write a comment...