ENERGI DAN KESEJAHTERAAN BANGSA ~ Oleh: Herman Agustiawan


 Bangsa dan negara bisa dikatakan sejahtera, apabila seluruh kebutuhan masyarakatnya termasuk bidang energi dapat dipenuhi secara mudah dan terjangkau. Hal ini, karena produktifitas seseorang untuk mencapai kesejahteraan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara amat bergantung pada tingkat konsumsi energinya. Kenapa demikian?
 
Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa sungguh paripurna menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya. Seluruh kebutuhan makhluk hidup di muka bumi ini  telah tersedia lengkap. Semuanya disediakan secara cuma-cuma bagi siapa saja yang bersedia dan mampu memanfaatkannya, seperti udara, air, ruang, dan waktu.
 
Dibanding makhluk lainnya, manusia dianugerahi keistimewaan akal pikiran. Karena itulah Tuhan telah memberikan kepercayaan kepada manusia untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini. Dengan akal, manusia harus mampu mengupayakan serta menggali berbagai sumber penghidupan untuk kelangsungan hidupnya. Karena tidak semua sumber penghidupan yang tersedia secara geratis itu dapat dimanfaatkan atau dikonsumsi secara langsung, melainkan sebagian masih perlu diupayakan oleh campur tangan manusia.
 
Disadari ataupun tidak sejak pertama kali manusia dilahirkan ke muka bumi, secara otomatis telah mengkonsumsi waktu dan ruang (alam semesta). Alam ini telah diciptakan Tuhan tanpa campur tangan siapapun termasuk manusia. Tuhan tak perlu repot-repot menyediakan dua kebutuhan itu untuk keberlangsungan hidup umat manusia tersebut. Alam semesta telah predefined atau given oleh Sang Cholik. 
 
Untuk mempertahankan kelangsungan dan tarap hidup yang lebih baik seiring dengan berkembangnya zaman, suka atau tidak suka manusia harus memenuhi seluruh kebutuhan dengan kombinasi dan formula yang sesuai. Jika tidak, maka kecil harapan bagi manusia untuk dapat hidup sejahtera sesuai kemajuan dan tuntutan zaman.
 
Nah, agar dapat memenuhi seluruh kebutuhan guna keberlangsungan dan peningkatan taraf hidup yang lebih baik tersebut, manusia dituntut lebih produktif dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, sesuai tugas dan fungsi serta profesi masing-masing.   
 
Dalam konteks produktifitas, konsumsi energi yang memadai amatlah penting. Karena itu ketersediaannya harus terus diupayakan selama manusia masih hidup. Waktu, ruang, dan energi (time, space & energy) adalah tiga kebutuhan yang bersifat universal atau berlaku umum. Mengingat, tidak seorang pun di muka bumi ini dapat bertahan hidup tanpa mengkonsumsi salah satu  dari ketiganya.
 
Jumlah energi yang perlu dikonsumsi oleh manusia tergantung pada usia atau waktu dan tempat di mana mereka berada. Ini menjadi paket kebutuhan yang bersifat permanen dan pemanfaatannya oleh manusia akan menghasilkan indeks keterkaitan atau “berkorelasi” dengan energi yang terkonsumsi.
 
Secara teori, “Jarak antara dua kota yang tetap kedudukannya dapat ditempuh dalam waktu lebih cepat, bila efisiensi penggunaan energinya tinggi. Sebaliknya, jarak dari kedua kota tersebut dapat ditempuh dalam waktu lebih lambat, jika efisiensi penggunaan energinya rendah.”
 
Teori itu mengusung dua fakta, yaitu adanya perbedaan jarak (tempat atau ruang) serta penggunaan energi dan waktu. Untuk menempuh jarak tersebut jumlah energi yang dikonsumsi erat kaitannya dengan durasi waktu.
 
Tanpa kita sadari setiap insan selalu terikat dengan teori tersebut. Seseorang akan mengulang aktifitas itu secara terus-menurus selama masa hidupnya. Di luar kesadarannya pula ketika manusia tengah menikmati ruang dan waktu juga sambil mengkonsumsi energi! Ruang, waktu, dan energi merupakan paket yang saling menunjang dalam meningkatkan produktifitas kehidupan manusia sehari-hari.
 
Dalam konteks berbangsa dan bernegara, seluruh paket yang dikonsumsi satu generasi akan mempengaruhi tingkat konsumsi  generasi berikutnya, demikian seterusnya. Ketahanan dan kemandirian sebuah bangsa terhadap paket tersebut dapat dilihat dari pola dan jumlah konsumsi energi masyarakat di setiap tempat selama selang waktu tertentu secara berkesinambungan.
 
 
Batasan Ruang dan Waktu

Waktu akan terus bergulir dan tidak ada seorang pun yang kuasa menghentikannya. Sementara manusia secara fisik tak akan bisa berada pada tempat yang berbeda dalam waktu bersamaan. Waktu akan habis atau musnah setelah digunakan (once the time is used, then it will be vanished). Dan, manusia tidak diijinkan untuk mengulangi kehidupannya di masa lampau. Itu semua adalah batasan waktu (time limitation) yang diberikan Tuhan kepada manusia.
 
Interval atau durasi waktu dari dua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan seseorang menunjukkan bahwa jumlah waktu yang terkonsumsi oleh yang bersangkutan. Umur kita sampai dengan hari ini adalah jumlah dari seluruh durasi waktu, bersama dengan ruang dan energi, yang telah dikonsumsi selama ini.
 
Setiap orang berharap bahwa, kehidupannya di dunia akan memiliki makna atau bermanfaat bagi manusia lainnya. Untuk mencapai harapan tersebut, maka yang bersangkutan harus mampu memindah-mindahkan badannya dari satu tempat ke tempat lain. Saat perpindahan terjadi, maka di situlah energi dibutuhkan untuk menunjang mobilitas menjadi lebih mudah, cepat dan nyaman. Hal ini terkait dengan batasan ruang (spatial limitation) yang telah menjadi ketentuan Tuhan. Batasan ruang yang dimaksud, bisa berupa rumah, kendaraan, dan tempat bekerja.
 
Mungkin Anda bertanya, mengapa badan kita yang harus berpindah tempat? Bukankah, kita bisa berada di beberapa tempat pada saat bersamaan  dengan cara melakukan teleconference?
 
Pertanyaan kritis itu membuktikan bahwa, batasan waktu dan ruang memang benar adanya. Waktu akan terus berputar ketika kita berpindah tempat,  bahkan saat sedang diam atau tidur sekalipun. Jadi, pada waktu yang sama manusia secara fisik tidak mungkin berada di dua tempat yang berbeda.
 
Dalam mengurangi batasan ruang dan waktu tersebut manusia telah berupaya dengan memanfaatkan teknologi. Manusia bisa berada di banyak tempat dengan merepresantasikan diri melalui “citra” (image). Sekali lagi, itu tidak secara fisik! Konsekuensinya, dalam memanfaatkan teknologi tersebut sudah pasti memerlukan banyak energi. Ini adalah salah satu sebab mengapa korelasi antara waktu dan ruang dengan energi yang terkonsumi menjadi penting dalam mendorong produktifitas seseorang.
 
Karena itulah pasokan energi harus disediakan sebanyak-banyaknya  untuk dikonsumsi manusia, di mana dan kapan pun mereka berada. Ketersediaan energi yang memadai, bukan sekadar agar dapat bertahan hidup tetapi supaya kehidupan manusia menjadi lebih bermanfaat bagi yang lainnya karena memiliki produktifitas tinggi.

 
Energi, Pendidikan, dan Kesehatan

Jumlah energi yang dikonsumsi seseorang mencerminkan tingkat pendidikan dan kesehatan yang bersangkutan. Seorang anak yang duduk di bangku SMP akan membutuhkan lebih banyak energi seperti listrik dan BBM, dibanding dengan anak SD. Begitu juga siswa/i SMA dibanding dengan yang SMP dan seterusnya. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka bertambah pula konsumsi energi dibutuhkan sehubungan dengan aktivitas yang lebih banyak seperti membaca di malam hari atau tingginya frekuensi pulang dan pergi ke sekolah.
 
Sama halnya dengan kesehatan,  seseorang yang menjaga keseimbangan antara bekerja, pola makan,  olah raga, hiburan dan rekreasi, maka konsumsi energinya akan berbeda dibanding dengan mereka yang hidup semaunya. Balita (bayi berumur lima tahun) dan Manula (manusia lanjut usia) akan mengkonsumsi energi lebih banyak ketimbang mereka yang berusia diantaranya. Pasalnya, Balita dan Manula memerlukan fasilitas pelayanan kesehatan lebih baik dan banyak yang tentunya akan menyerap energi lebih tinggi.
 
Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Fakta membuktikan bahwa, pertumbuhan penduduk di Dalam Negeri sangat cepat dan   sekitar 4 juta bayi lahir setiap tahunnya. Ini hampir sama dengan jumlah penduduk di Singapura, separuhnya Austria, dan dua kali lipat Slovenia. Bayi-bayi tersebut di samping memerlukan pasokan gizi yang memadai juga butuh sarana dan prasarana seperti Jalan, Alat Transportasi, BBM, Listrik, Klinik, dan Rumah Sakit untuk menujang pertumbuhan dan kesehatan yang berkualitas.
 
Yang menjadi pertanyaan, berapa energi listrik dan liter bensin yang diperlukan agar para bayi tersebut bisa sehat hingga usia lima tahun? Atau, agar para Manula tersebut telah menjalankan masa produktif yang lama dan berkualitas?
 
Seandainya saja, alokasi listrik bagi seorang bayi adalah 100 Watt-hour (Wh) per hari untuk memasak air/susu dan merendam berbagai peralatan agar steril, maka  dalam setahun konsumsi enegi yang dibutuhkan sebesar 36,5 KWh (1 tahun = 365 hari). Berarti, untuk memenuhi kebutuhan 4 juta bayi adalah sebesar 146.000 MWh per tahun atau setara dengan 146 GWh per tahun.
 
Bila pembangkit dengan kapasitas 1 MW bisa memasok energi sebesar 5 GWh/tahun, maka untuk kebutuhan sebesar 146 GWh diperlukan pembangkit dengan kapasitas sekitar 30 MW per tahun. Sementara untuk kebutuhan BBM, bila pemerintah memberikan kuota  pemakaian sebanyak 0,33 L bensin per hari atau sekitar 10 liter per bulan, maka untuk memenuhi kebutuhan sebanyak 4 juta bayi diperlukan sekitar 40 juta liter per bulan atau sekitar 480 juta liter per tahun.
 
Bagaimana dengan bayi-bayi yang lahir pada tahun kedua, ketiga, dan seterusnya – untuk memenuhi kebutuhan lima tahun ke depan, baik konsumsi listrik maupun bensin? Berapa pembangkit listrik dan kilang minyak baru yang harus dibangun untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dua jenis energi (Listrik dan BBM) tersebut untuk seluruh penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa?  
 
Meskipun, dalam kenyataan pasti tidak semua bayi akan memanfaatkan BBM atau listrik sesuai alokasi tersebut (katakan hanya 50 persen), karena berbagai kondisi. Namun, setiap pengurangan konsumsi energi pasti akan berdampak terhadap masa pertumbuhan, kesehatan, dan produktifitas masyarakat yang berkualitas kelak di masa mendatang.
 
Bila ditinjau dari sisi usia, mereka yang berada pada masa produktif, katakan 20 – 50 tahun, dengan namun tingkat konsumsi energinya rendah, dapat dipastikan keberadaannya kurang bermanfaat bagi orang lain. Terlebih bila mereka yang pada usia produktif tersebut berada di perkotaan. Bila demikian kondisinya, maka sama saja dengan mereka yang berada di daerah terpencil yang tidak memerlukan konsumsi energi tinggi karena terbelakang.
 
Nah, supaya keberadaan masyarakat di perkotaan lebih  bermanfat atau sekurang-kurangnya tidak menyusahkan orang lain, maka mereka harus diberi pekerjaan. Untuk itu diperlukan adanya pertumbuhan ekonomi, industrialisasi yang dapat mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi dan padat karya seperti industri manufaktur di bidang permesinan, elektronika, dan pengolahan. Untuk pertumbuhan ekonomi tersebut perlu infrastruktur, pasokan dan harga energi yang dikelola dengan baik dengan memperhatikan dimensi ruang dan waktu.
 
Selain dapat meningkatkan produktifitas untuk mencapai tarap pendidikan dan kesehatan yang lebih baik, konsumsi energi juga mencerminkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. Di kota-kota besar di Indonesia, masyarakat bersepeda motor untuk melakukan kegiatan rutinnya. Jumlah sepeda motor diperkirakan saat ini hampir mencapai 100 juta unit. Sementara di beberapa negara maju seperti Amerika, mengendarai mobil pribadi pada awal masa karir bukanlah sesuatu yang wah. Sedangkan di Jepang dan beberapa negara di Eropa, budaya menggunakan transportasi massal lebih populer. Ini menunjukan bahwa kesejahteraan suatu bangsa ditentukan oleh pola dan jumlah konsumsi energi masyarakatnya.
 
Mereka yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan energinya, bisa diduga lebih sehat dan sejahtera, setidak-tidaknya dapat untuk menjalankan profesinya dengan baik. Dari sisi profesi, keberadaan mereka akan lebih diperlukan atau banyak memberikan manfaat terhadap orang lain dan bisa dikatakan sukses dalam berkarir. Tentunya bagi mereka yang sukses, relatif akan mengkonsumsi lebih banyak energi karena harus memindah-mindahkan fisiknya dalam waktu singkat. Semakin bermanfaat hidup seseorang, maka energi yang dikonsumsi akan bertambah banyak. Mungkin pernyataan itu tidak 100% benar, tapi juga tidak 100% salah.
 
Bagaimana dengan mereka yang hidup di daerah terpencil, pegunungan atau di pesisir? Karena kondisi yang menuntut mereka lebih banyak berinteraksi dengan alam di sekitarnya, maka dapat dikatakan konsumsi energinya jauh lebih rendah ketimbang mereka yang berada di perkotaan. Ketidaktersediaan infrastruktur dan daya beli yang rendah, mereka hanya bisa mengkonsumsi energi dalam jumlah dan jenis yang terbatas ketimbang mereka yang hidup di perkotaan. Sehingga, keberadaan mereka ‘mungkin’ kurang memberikan kontribusi terhadap kebanyakan orang. Bahkan, bukan mustahil akan sulit untuk diberikan pertolongan bila alam sedang tidak bersahabat atau terjadi bencana alam karena lokasinya yang terpencil.
 
Tinggi rendahnya tingkat konsumsi energi suatu bangsa, tercermin dalam konsumsi per kapita sebagai indikator tarap pendidikan, kesehatan, kemandiriaan, dan kesejahteraan pada  level nasional. Nah, di negara kepulauan seperti Indonesia, konsumsi energi per kapita yang saat ini diperkirakan mencapai 600 kWh, kurang menjelaskan kondisi ruang dan waktu yang sebenarnya. Hal ini terkait distribusi penduduk dan pasokan, kebutuhan serta infrastruktur energi yang belum merata di semua kota dan kepulauan. Bahkan konsumsi energi di beberapa kota dalam provinsi yang sama atau antar provinsi dalam satu kepulauan pun masih terdapat perbedaan yang sangat tajam dari waktu ke waktu.
 
Misalnya, di sebuah kota di Jawa Barat, satu keluarga memasang daya listrik di rumahnya, sebesar 1.300 Watt. Berdasarkan kemampuan dayanya, energi listrik maksimum yang bisa dikonsumsi adalah 1.300 Watt x 8000 jam per tahun atau setara 10.400 kWh per tahun (Asumsi: 1 tahun = 8000 jam). Bila keluarga tersebut beranggotakan 4, 5 atau 6 orang, maka konsumsi energi per kapita per tahun berturut-turut adalah 2600 kWh, 2080 kWh, 1733 kWh.
 
Jumlah konsumsi ini akan berkurang sesuai kualitas dan kehandalan sistem pembangkit, transmisi dan distribusi. Kapasitas terpasang akan berbeda dengan daya mampu karena ada penyusutan, fluktuasi tegangan yang tidak stabil, perawatan/perbaikan, dan lainnya.
 
Berapa seharusnya pendapatan seseorang dan berapa harga energi listrik supaya yang bersangkutan mampu membayar energi listriknya? Dan, berapa PLN harus mengambil  untung guna pengembangan usahanya? Untuk menjawaban pertanyaan itu, perlu pemikiran sangat mendalam dan ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah, pemangku kebijakan, dan pihak-pihak terkait lainnya. Namun terlepas dari jenis profesinya, kebutuhan energi listrik minimun seseorang sekurang-kurangnya harus mencapai 300 kWh per bulan atau 3.600 kWh per tahun. Angka ini, lebih kurang sama dengan Malaysia,  yakni sekitar 3.400 kWh. Sementara Vietnam sekitar 800 kWh, Jepang sekitar 8.000 kWh, Korea Selatan 8.800 kWh, dan Amerika sekitar 14.000 kWh.
 
Jadi, untuk peningkatan taraf pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan perlu segera menaikkan konsumsi energi, khususnya listrik per kapita secara bertahap dengan memperhatikan kondisi geografis dan waktu. Caranya, melakukan pemetaan distribusi sumberdaya alam dan energi, penduduk, pembangunan ekonomi, dan menggenjot pertumbuhan melalui diversifikasi produk yang bernilai tambah tinggi.
 
Kemajuan suatu bangsa amat bergantung pada sejauh mana kemampaun terhadap pemenuhan kebutuhan energi masyarakatnya. Sehingga keberadaan masyarakat, dengan profesi masing-masing dapat lebih bermanfaat bagi orang lain dan bangsanya. Indonesia relatif memiliki sumberdaya energi yang banyak, namun sayang hingga kini belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Ini merupakan PR kita semua bersama, mari kita bahu-membahu untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda itu.
 
Dua fakta yang tidak bisa dihindari bahwa, waktu akan terus bergerak maju, manusia tak kuasa menghentikannya. Dan, manusia harus selalu berpindah-pindah tempat sebagai syarat bahwa kehidupannya memiliki makna dan bermanfaat bagi orang lain – waktu, ruang dan energi adalah tiga parameter kehidupan manusia yang universal (*)
 
Penulis adalah anggota Dewan Energi Nasional
 

Komentar Anda
3 recommended
comments icon 0 comments
121 views
bookmark icon

Write a comment...