Industri Baja Bersinergi Halau Produk Impor


Jakarta – Pengembangan infrastruktur yang pesat dipastikan akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk menggerakkan rantai nilai industri konstruksi baja, mulai dari desain, teknologi hingga instalasi.

Kisah sukses mempromosikan konsumsi baja di negara maju berawal dari keterlibatan semua pemangku kepentingan, mulai dari pemasok bahan baku, produsen baja, kontraktor, lembaga penelitian dan Pemerintah.

Karena itu, sinergitas industri baja dan pelayanan konstruksi dengan semua pemangku kepentingan di dalam negeri diharapkan dapat mewujudkan perbaikan bisnis serta perkembangan ekonomi yang signifikan.

Selain itu, industri juga meminta Pemerintah untuk berperan lebih aktif dalam mendukung harmonisasi peraturan terkait konstruksi baja, mulai dari investasi, operasional, standardisasi, desain produk, hingga sumber daya manusia.

Sebab, ketidakharmonisan peraturan bisa menghambat keberlangsungan bisnis industri dalam negeri. Disamping, menjatuhkan wibawa Pemerintah karena dinilai tidak memberikan kepastian hukum dalam berinvestasi.

Sebagai ilustrasi, saat ini pelaku industri baja tengah mengalami tantangan berat terkait maraknya produk impor dengan harga murah dan standar kualitas yang rendah. Padahal dari sisi kapasitas, mereka menegaskan mampu memenuhi semua kebutuhan produk baja nasional.

Presiden Direktur PT NS BlueScope Indonesia Yan Xu mengatakan, harmonisasi peraturan akan memberikan kepastian pasokan yang bisa dipenuhi produsen baja nasional seperti BlueScope dan Krakatau Steel, untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan dalam negeri.

“Dengan harmonisasi aturan, maka debit impor yang selama ini cukup deras juga dipastikan akan dapat ditekan,” katanya saat seminar “Sinergitas Industri Baja untuk Memenuhi Kebutuhan Dalam Negeri”, di Hotel Mulia Senaya, Jakarta, Rabu (13/2).

Yan Xu menyebut bahwa kehadiran baja non-standar di Indonesia sebagai dampak dari pembukaan saluran impor merupakan tantangan terberat bagi industri dalam negeri. “Hingga saat ini, sebagian besar pemenuhan kebutuhan baja konstruksi masih didominasi impor yang dipicu oleh harga 20 – 30o/o lebih murah dibandingkan dengan produk baja dalam negeri,” tandasnya.

Bayangkan, lanjut Yan Xu, untuk baja lapis saja, hampir 80o/o kebutuhan dalam negeri dipenuhi oleh impor. Padahal, industri baja nasional mampu memasok 1,4 juta ton permintaan per tahun dengan utilitas optimum.

“Dimana, BlueScope sendiri merupakan salah satu industri baja lapis alumunium seng terbesar di Indonsia, dengan kapasitas produksi sebesar 250.000 ton per tahun. Jadi, selama ini kami punya kemampuan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” imbuhnya.

Hal yang sama diungkapkan Nicolas Kesuma, Marketing Director PT Alsun Suksesindo – salah satu produsen olah baja ringan handal di Indonesia. Menurut dia, dengan harmonisasi tersebut, maka Wijaya Karya (Wika) – kontraktor tenama tanah air – juga bisa turut serta menggunakan standar dan aturan main terkait kualitas serta penyerapan produk dalam negeri.

“Itulah manfaat dari sinergi yang kita bangun selama ini. Untuk itu, kami berharap dengan sinergi dan harmonisasi ini dapat memberikan kesempatan spesifikasi proyek yang lebih berpihak kepada industri dalam negeri,” kata Nicolas – sapaan akrabnya.

Nicolas mengakui, Pemerintah telah mengatur beberapa standar untuk produk dan konstruksi yang dikenal sebagai Standar Nasional lndonesia (SNI). Begitu pula dengan aturan minimum nilai konten lokal (TKDN) telah diterbitkan. Namun pengawasan serta penegakan aturan di lapangan dirasa masih kurang.

“Sehingga, sering kali ditemukan perubahan spesifikasi dan ketidakcocokan antara standar produk dengan standar konstruksi. Hal ini telah mengorbankan aspek keselamatan dalam konstruksi bangunan,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (TILMATE) Kementerian Perindustrian, Harjanto, mengungkapkan bahwa selama ini Pemerintah terus berupaya mempromosikan rantai nilai tambah bagi industri dalam negeri.

Hal itu diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan negara sekaligus mengurangi impor. “Dengan semakin panjangnya ketersediaan rantai pasok melalui perluasan peluang investasi, maka otomatis akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam negeri,” pungkas Harjanto.

Komentar Anda
3 recommended
comments icon 0 comments
10 views
bookmark icon

Write a comment...