MOBIL (TANPA SUMBER) LISTRIK? ~ Oleh: Bambang Setiadi


Agak kelimpungan juga kita membaca peta jalan (road map) industri mobil di Indonesia. Hanya dalam periode sangat berdekatan,  kita disuguhi berita-berita menggelegak tentang munculnya kemampuan dan inovasi mobil di Tanah Air.
 
Dimulai dari munculnya  berita yang menyenangkan  ketika para duta Indonesia yang mengikuti kompetisi Shell Eco-marathon Asia (SEM-Asia),  berlaga dengan ratusan peserta, di kelas Urban Concept, Team Institut Teknologi Surabaya (ITS) menjadi pemenang dengan mobil Sapu Angin 4. Kendaraan ini dengan konsep bahan bakar biodiesel (fathy acid methyl esther), yang mampu melaju sejauh 149,8 km hanya dengan konsumsi bahan bakar 1 liter. Mobil ini sekaligus meraih penghargaan alternatif diesel fuel award  karena menggunakan bahan bakar diesel. Yang lebih membanggakan, UI, ITB, UGM dan ITS seolah berlomba dalam menemukan konsep mobil masa depan.
 
Disusul berita lebih heboh ketika dari Solo, dengan serentak media cetak dan TV memuat gambar gagahnya walikota Solo Joko Widodo (Jokowi) berfoto di depan mobil dinas yang diproduksi penuh oleh anak-anak di sekolah kejuruan, dengan inovasi sehingga  harga jauh lebih murah untuk kapasitas mobil yang sama. Disela kemudian dengan berita munculnya mobil hybrid LIPI dengan lima keunggulan inovasi: sumber energi yang bervariasi,  emisi gas buang  di-klaim turun hingga 70%, efisiensi BBM dua kali lipat, lebih murah dan terakhir energi yang fleksible. Ini juga belum puncak, karena disusul kemudian Menteri BUMN mendemonstrasikan mobil listrik lokal yang tidak mogok ketika dikendarai dari Bogor ke Jakarta.
 
Dengan bahasa sederhana, ada sebuah peta yang bisa dibaca begini:  konseptor dan pembangun mobil di Indonesia adalah anak2 di sekolah kejuruan, masyarakat awam dengan kemampuan teknis cukup, lembaga riset pemerintah dan mahasiswa dengan kemampuan daya saing baik. Mereka semua disatukan oleh satu tantangan membangun mobil yang irit dan sumber energi non konvensional. Kemampuan mereka semua sanggup menyerahkan hasil inovasinya sampai berjalan di jalan raya.Sampai di sini, titik.
 
Konsep selanjutnya menuju industri ? Maaf hanya rame di koran dan televisi. Pesanan hanya dalam jumlah belasan. Tak bisa bergerak lebih dari ratusan. Terkadang saya bermimpi seperti yang saya lihat di pusat riset teknologi di Korea. Siapapun orangnya, anak-anak sekolah kejuruan, mahasiswa ataupun masyarakat awam, yang punya temuan teknologi, ia di “inkubasi” di suatu kawasan seperti Puspiptek Serpong, temuannya diberi paten, penemunya diberi fasilitas untuk terus memperbaiki hasil temuannya dan hasil temuannya di jual sebagai industri skala menengah dan besar, kemudian sang penemu diberi saham (yang menggiurkan)  ketika hasil industrinya diproduksi massal. Peta jalan (road map) suatu inovasi di Korea itu demikian sederhana, bahkan hanya diterangkan oleh si pemandu tidak lebih sepuluh menit. Jelas dan sangat menantang. Standarnya urut.
 
Jauh dari kasus mobil Esemka. Ketika hasil unjuk kerja mobil  itu diminati masyarakat, yang terjadi malah ribut di koran. Ada sebagian memuji, ada yang mempertanyakan keandalannya dan tak sedikit yang “nyinyir”. Itu akibat kita ini bangsa yang tak memiliki road map, bahkan untuk persoalan yang demikian kunci bagi masa depan.
 
Ketika saya membaca berita mobil listrik yang dikendarai  Menteri BUMN, “insting standar” saya bergerak dengan pertanyaan: “Standar apa yang diterapkan untuk mobil listrik itu?”.  Pertanyaan itu benar-benar reflek saja. Saya menghadiri tiga pertemuan  internasional  besar di Cape Town (2010), Oslo (2011) dan Melbourne (2011) yang di dalamnya ada  agenda mengenai mobil listrik. Tiga pertemuan itu bukan pertemuan mengenai mobil atau otomotive, tapi pertemuan  mengenai standar yaitu General Assembly International Organization for Standardization (ISO) dan General Assembly  International Electronical Cooperation (IEC).
 
Yang ingin saya sampaikan adalah: semua konsep mobil listrik itu pada awalnya diadu di ajang pertemuan standard. Mengapa? Karena begitulah road map suatu inovasi teknologi. Ketika suatu hasil riset ditemukan, diikuti dengan berbagai innovasi maka selanjutnya harus diikuti dengan standar yang diterapkan. Artinya, Riset-Inovasi-Standard (RIS)  adalah tiga kata yang diucapkan dalam satu tarikan napas.

Lihat saja kasus mobil Esemka. Ketika penelitian mobil sudah dilakukan, inovasi diterapkan (sehingga harganya bersaing), namun ketika pada satu ( hanya satu) tahap pengujian standar emisi gas buangan di Serpong tidak lulus, akibatnya pasar menjadi bertanya, mengapa? Kalau tanpa standar, siapa berani menjamin bahwa mobil itu mempunyai kemampuan menjaga keamanan bagi penumpangnya ketika sudah berjalan dalam suatu jarak tertentu. Apakah ban, mesin, kaca, karet kipas dan lain-lain yang dipakai itu memiliki standard uji tertentu?
 
 
Mobil listrik, tanpa sumber listrik?
Kecanggihan konsep mobil listrik itu ada pada teknologi menyimpan listrik dan  sumber listrik. Penyimpan listrik di dalam mobil biasanya dalam bentuk batere. Teknologi yang saya ketahui dari film yang dipaparkan di Cape Town dari delegasi standar Israel, listrik untuk mobil disimpan di batere yang disimpan dibagian bawah mobil, ukurannya sekitar dudukan sopir dan penumpang belakang. Ketika mobil memasuki garasi, batere itu itu otomatis dicopot oleh mekanisme dari bawah kolong di garasi (persis seperi kolong teknisi pada bengkel mobil), dilepas kemudian diganti oleh batere yang sudah di”charge” di rumah.
 
Cara lain, listrik disediakan dengan cara seperti pompa pengisian BBM. Siapa saja bisa berhenti disuatu tempat, ambil selang kemudian diisi. Perbedaan dengan mobil konvensional, selangnya ada di bagian depan. Masalah rumitnya adalah ketika kita disodori pertanyaan:”mobil listrik kita itu sumber listriknya dari mana ?” Sulit membayangkan bahwa kita memakai mobil listrik, diisi dengan penuh daya listriknya, hanya untuk menikmati macet. Itu bakal menjadi sebuah rantai pemborosan yang luar biasa. Situasinya jadi aneh, kita keluar dari masalah mengganti  BBM masuk ke listrik tapi mungkin lebih boros, karena konsumsi listrik berasal dari pembangkit listrik yang sumbernya dari gas, minyak atau batubara.
 
Mengapa itu menjadi pertanyaan, karena seperti yang saya amati,  mobil listrik berkembang baik di negara yang listriknya murah. Mengapa murah, karena sebagian besar negara itu menggunakan nuklir sebagai sumber energi atau hidro. Pertanyaan berikutnya, seberapa siap kita menyediakan sumber listrik untuk mobil listrik?  Dimeja siapa sekarang rencana pembangunan PLT Nuklir dan PLT Hidro skala besar di Indonesia. Kalau ada harapan mobil listrik itu juga dipasok dari sumber listrik dari matahari, siapa sekarang yang menangani untuk konsep itu? 
 
Kalau dipepet dengan pertanyaan rumit semacam itu, secara akademis jawabannya adalah kembangkan saja lebih serius mobil hybrid dan mobil irit biodiesel. Kalau mau tantangan lebih besar lagi pindah saja ke mobil hydrogen. Hanya hitungan satu dekade lagi, mobil hydrogen akan merajai jalan raya di Amerika dan Eropa. Kirim anak-anak muda kita untuk belajar mengenai sumber energi hydrogen ini. Dukung penuh, “curi” dan beli patennya, hargai temuannya,  kembangkan industrinya. Ingat, semua sudah semakin mendekati kenyataan, ekonomi dunia menuju “hydrogen economy”. Tantangan baru yang sedikitpun Menteri ESDM tak boleh berkedip.
 
Artikel ini ditutup dengan tiga kata kunci problem industri mobil listrik di Indonesia: Road map-sumber listrik – standar. Kalau tiga hal itu tidak bisa dinalar dengan urut, maka semua kemajuan dan temuan akan mengalami seperti yang kita lihat hari ini. Hanya wacana. Maaf. (*)

 
Penulis adalah Kepala BSN periode 2008-2012 dan Ketua Masyarakat Akunting Sumberdaya Alam dan Lingkungan Indonesia
 

Komentar Anda
3 recommended
comments icon 0 comments
130 views
bookmark icon

Write a comment...