OJK: Stabilitas Jasa Keuangan Masih Terjaga


Jakarta – Kendati kondisi likuiditas di pasar keuangan mengalami volatilitas akibat berlanjutnya ketidakpastian pasar keuangan global tetapi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, stabilitas sektor jasa keuangan di Indonesia masih dalam kondisi terjaga.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyebut, dalam beberapa waktu terakhir, kondisi pasar keuangan global masih mengalami ketidakpastian dipengaruhi oleh berlanjutnya isu perang dagang antara AS dan Tiongkok dan normalisasi kebijakan moneter AS dan Eropa.

“Ketidakpastian ini telah meningkatkan tekanan di pasar keuangan emerging markets, khususnya di negara-negara yang mengalami ketidakseimbangan eksternal,” katanya dalam Rapat Dewan Komisioner, di Jakarta, Rabu (26/9).

OJK mendukung penuh upaya pemerintah dalam mengurangi dampak adanya tekanan pasar keuangan global terhadap perekonomian domestik, antara lain penjadwalan ulang proyek infrastruktur non-strategis dengan konten impor tinggi, penggunaan biosolar (B20), dan peningkatan tarif PPh impor produk konsumsi.

Di tengah dinamika di pasar keuangan global, pasar modal domestik per September 2018 terpantau masih relatif stabil. Per 21 September 2018, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pelemahan tipis sebesar 1,0% secara mtd  dengan investor non residen mencatatkan net sell sebesar Rp2,5 triliun. Secara ytd, IHSG terkoreksi sebesar 6,3% dengan investor nonresiden mencatatkan net sell sebesar Rp52,7 triliun.

Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), yield tenor jangka pendek, menengah, dan panjang kembali meningkat masing-masing sebesar 82 bps, 22 bps, dan 42 bps mtd. Peningkatan yield ini terjadi seiring dengan dinamika eksternal yang masih meningkat. Sampai dengan 21 September 2018, investor nonresiden masih mencatat net buy sebesar Rp4,4 triliun.

Sementara itu, kinerja intermediasi sektor jasa keuangan pada Agustus 2018 secara umum masih bergerak positif. Kredit perbankan dan piutang pembiayaan masing-masing tumbuh sebesar 12,12% yoy dan 5,82% yoy, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya (11,34% dan 5,53%).

Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 6,88% yoy. Premi asuransi jiwa dan asuransi umum/reasuransi per Agustus 2018 masing-masing mencatat sebesar Rp114,8 triliun dan Rp49,3 triliun.

Sedangkan di pasar modal, pada periode Januari sampai dengan 21 September 2018, penghimpunan dana oleh korporasi telah mencapai Rp130 triliun, dengan emiten baru sebesar 39 perusahaan, dan total dana kelolaan investasi sebesar Rp740,69 triliun, meningkat 7,58% dibandingkan akhir tahun 2017.

Di tengah berlanjutnya volatilitas di pasar keuangan domestik, profil risiko lembaga jasa keuangan masih terjaga pada level yang manageable. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross perbankan tercatat sebesar 2,74%, sedangkan rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan berada pada level 3,11%.

Sementara itu, permodalan lembaga jasa keuangan tercatat pada level yang cukup tinggi. Capital Adequacy Ratio perbankan per Agustus 2018 tercatat sebesar 23,01%, sedangkan Risk-Based Capital industri asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 309% dan 434%.

Dinamika di pasar keuangan diperkirakan masih akan berlanjut seiring masih tingginya downside risk di lingkup global. OJK memandang kemampuan sektor jasa keuangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masih terbuka, namun tetap dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian.

Beberapa faktor risiko yang menjadi perhatian di antaranya adalah perkembangan suku bunga dan likuiditas global, gejolak di pasar keuangan emerging markets, dan tensi perang dagang. “OJK akan mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sektor jasa keuangan nasional serta memperkuat koordinasi dengan lembaga-lembaga terkait,” pungkas Wimboh.

Komentar Anda
comments icon 0 comments
4 views
bookmark icon

Write a comment...