Rengginang Ma’Cons, Angkat Panganan Khas Bogor


Jakarta – Berawal dari keprihatinan akan kurang diminatinya makanan tradisional, Siti Hasanah berhasil mengembangkan Rengginang, makanan khas Jawa Barat, menjadi panganan bernilai ekonomis tinggi.

“Saya tinggal di Bogor, daerah saya itu sebetulnya sentra rengginang, tapi saat ini kan rengginang itu kurang diminati anak-anak, dari situ saya berkeinginan untuk membuat rengginang agar bisa kembali disukai,’ ujar Siti yang ditemui mikronews di sebuah acara diskusi UMKM di Depok, Jawa Barat, pekan lalu.

Siti mencoba membuat rengginang dengan menambahkan berbagai macam perasa dan ternyata banyak disukai anak-anak. Dari situ dia mulai memproduksi dan memasarkan rengginang dengan label rengginang ‘Ma’Cons’.

“Setelah ditambahkan aneka rasa, ternyata banyak yang pesan, banyak yang suka,” katanya.

Nama ‘Ma’Cons’ ia pilih diambil dari nama panggilan kecilnya, Cocon. Sedang kata Mak, diambil dari panggilan anak-anaknya.

“Waktu kecil saya dipanggil Cocon, nah anak – anak panggil saya mamah, jadi gabungkan nama itu jadi rengginang ‘Ma’Cons’,” ujarnya.

Siti menuturkan, dia memproses sendiri rengginang ‘Ma’Cons’ yang ia produksi untuk memastikan kebersihan produknya terjamin.

“Saya ambil bahan baku rengginangnya, saya olah sendiri, goreng sendiri, jadi saya jamin kebersihannya,” ujar Siti.

Rengginang ‘Ma’Cons’ yang mulai ia produksi awal tahun 2017 ini baru tersedia dalam tiga aneka rasa, barbeque, sapi panggang dan balado. Siti mengemas produknya dalam satu toples plastik yang ia jual Rp.15.000 per toplesnya.

“Saat ini baru saya pasarkan dor to dor, dan kebetulan saya mantan guru jadi banyak kenalan guru yang pesan,” jelasnya.

Meski hanya dipasarkan dari mulut ke mulut, Siti mengaku kewalahan memenuhi pesanan rengginang ‘Ma’Cons’ produksinya.

“Waktu lebaran kamaren saya produksi sampai 100 kiloan, kalo sekarang hari biasa saya sampe 10 kilo perbulannya,” jelasnya.

Selain rengginang, Siti juga memproduksi Tauco,  bumbu makanan yang terbuat dari biji kedelai. Siti yang pesiunan guru ini mengatakan dirinya sudah membuat tauco sejak masih remaja namun sempat terhenti karena pekerjaan. Sekarang setelah pensiun dan mulai mengembangkan panganan khas daerahnya Siti kembali memproduksi tauco.

“Kalo tauco saya udah priduksi sejak masih gadis, namun belum berani masarkan hanya saya buat kalau ada pesanan, tapi kemudian berhenti karena pekerjaan, baru sekarang saya produksi lagi,” katanya.

Siti bertekad untuk terus mengembangkan usahanya agar produk khas daerah terangkat kembali dan kian diminati.

“Kedepannya saya ingin  lebih banyak menjualnya ke online, kalo sekarang baru melalui Wa dan Facebook anak-anak saya,” tutupnya.

 

Komentar Anda
12 recommended
comments icon 0 comments
93 views
bookmark icon

Write a comment...