REVITALISASI PASAR BUTUH KESERIUSAN ~ Oleh: Irwan Khalis


Diketahui bersama bahwa selama ini pasar tradisional merupakan pilar perekonomian dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Tidak heran hingga kini masih terdapat 13.450 pasar di seluruh pelosok nusantara dengan jumlah pedagang sekitar 12.650.000 orang, dimana seluruh komunitasnya mencapai 50 juta jiwa.

Pasar tradisional adalah etalase para petani sayur, buah, dan bahan pangan. Ianya juga etalase para nelayan, petambak, serta perajin2 produk sandang serta pemasok perlengkapan kehidupan sehari-hari. Pendeknya sangat STRATEGIS.

Jumlah dan fungsinya ini menegaskan bahwa pasar tradisional berkaitan erat dengan hajat hidup orang banyak. Amat disayangkan, kondisi sebagian besar pasar saat ini tak mencerminkan perannya yang cukup besar dalam menopang perekonomian bangsa, alias sangat “mengenaskan”.

Padahal, sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang mayoritas adalah dari komunitas pasar tradisional, nyata-nyata terbukti telah beberapa kali menyelamatkan negeri ini dari badai krisis ekonomi global. 

Kondisi fisik pasar tradisional umumnya sudah berusia lebih dari 50 tahun yang bermula dari program INPRESnya Presiden Suharto,  tanpa ada biaya pemeliharaan memadai dari pemkab/pemkot. Lihat saja, lebih dari 1.000 pasar tradisional di Jawa Tengah, hampir 80% dalam kondisi semerawut, becek, dan berbau tak sedap yang menusuk hidung. Bahkan tidak sedikit pasar yang terbakar, hingga kini belum sempat dibangun kembali oleh pemerintah.

Terbatasnya anggaran menjadi salah satu tantangan dalam memperbaiki kondisi pasar menuju kompetisi bisnis ritel yang sehat. Bukan tidak ada upaya untuk melakukan perbaikan terhadap kondisi pasar yang sudah tak laik dioperasikan tersebut. Terbukti, Kementerian Perdagangan RI sejak 2007 silam mulai melakukan pembenahan pasar tradisioanal melalui Program Revitalisasi Pasar. Melalui program ini setiap tahunnya ratusan miliar rupiah digelontorkan oleh pemerintah pusat melalui pemda.

Tahun 2012, dialokasikan sekitar Rp400 miliar untuk membangun 79 pasar tradisional serta 20 pasar percontohan. Sejak itu, setiap tahun terdapat alokasi dana yang disediakan khusus untuk revitalisasi pasar tradisional, mulai dari pusat hingga tingkat kabupaten/kota. Namun, pembenahan pasar tradisional yang jumlahnya mencapai belasan ribu unit dengan tujuan mengejar ketertinggalan, rasanya sulit dicapai apabila hanya bersandar pada dana APBN.

Karena itu diperlukan peran swasta untuk saling bahu membahu bersama pemerintah dalam mempercepat revitalisasi pasar yang sudah menjadi tuntutan dari perubahan zaman dan pola berbelanja masyarakat di republik ini.

Selain itu, penegakan hukum terhadap peraturan pemerintah (PP No. 112/2007) tentang zonasi antara pasar tradisional dan modern harus dijalankan secara benar serta konsisten dan konsekwen pada enforcement-nya.
Jika tidak, maka upaya pemerintah melalui program revitaslisasi pasar tradisional akan sia-sia. Karena persaingan semakin tak terkendali dan cenderung terjadi kanibalisasi pasar oleh pemain besar yang berkantong tebal.

Terlihat disini kebijakan FREE TRADE yang tidak dipadankan dengan FAIR TRADE! Lihat saja, akibat lemahnya penegakan hukum yang terjadi selama ini jumlah populasi pasar di seluruh nusantara belakangan semakin tergerus.

Populasi 13.000 pasar tradisional di Indonesia turun 8,1 persen setiap tahun. Sebaliknya, pasar modern tumbuh 31,4 persen setiap tahun. Artinya, dalam 12 tahun pasar tradisional akan musnah dan menjadi museum. Tak tanggung-tanggung, sekitar 12 juta UMKM terancam menganggur dan 12 juta supplier kehilangan pesanan. Pasar tradisional harus bertahan menahan 'serangan' dari pasar modern seperti mall.

Agar pasar tradisional tidak musnah, setidaknya diperlukan investasi sebesar Rp52 triliun setiap tahun. Karena itu, dengan APBN kurang dari Rp500 miliar per tahun untuk revitalisasi, masih banyak gap yang harus diisi oleh non pemerintah.

Ini, merupakan potensi besar bagi kalangan swasta untuk turut mengembangkan pasar tradisional menjadi lebih berkembang. Namun dukungan tinggi dari pemerintah melalui sikap profesionalisme dan keseriusan dalam pengelolaan pasar tradisional sangat dibutuhkan. (*)

Penulis adalah CEO Itqoni Group

Komentar Anda
3 recommended
comments icon 0 comments
113 views
bookmark icon

Write a comment...