Syakir Jatuh Bangun Tanpa Akhir


Keberanian dan jiwa pantang menyerah menjadi modal utama Muhammad Syakir terjun dalam dunia bisnis. Meski berkali-kali mengalami kegagalan membangun usaha, tekadnya untuk menjadi seorang entreprenur tidak pernah pupus. Kini, pria Bugis ini sukses menjadi produsen bubuk minuman instan (powder drink) dengan omzet ratusan juta rupiah saban bulan.

Jika dihitung, Syakir sudah menjajal lebih dari tiga jenis usaha berbeda. Saat menjadi mahasiswa, perantau asal Makasar ini mencoba membuka toko kelontong di Tanjung Priok, pada tahun 2000-an. Dengan semangat, dia mengisi penuh gerainya dengan berbagai barang, tanpa melihat kebutuhan pasar yang sesungguhnya.

Alhasil, tokonya hanya bertahan tiga bulan. “Saya tidak menyadari di antara barang-barang itu, ada yang memiliki masa kedaluwarsa,” kenang Syakir. Dia pun harus menelan kerugian lantaran banyak bahan makanan yang terbuang.

Syakir mengikuti jejak sang kakak, ketika memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di ibukota. Kebetulan, waktu itu, sang kakak memiliki studio foto. Sembari membantu usaha sang kakak dan kuliah, dia juga belajar fotografi.

Dengan ketrampilan memotret ini, Syakir melamar menjadi wartawan foto di sebuah media ibukota pada 2002. Namun, niat untuk punya usaha sendiri, tetap kuat tertanam dalam jiwanya. Ayah dua anak ini tak putus mengendus peluang baru.

Pada 2006, Syakir menjajal usaha bengkel. Di sela-sela kesibukannya meliput berbagai acara, dia selalu menyempatkan membeli barang-barang di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta. “Jadi, kalau pulang, banyak tentengan di motor,” ujar dia.

Sayang, kesalahan yang sama kembali berulang. Lagi-lagi, Syakir tak mempelajari pasar terlebih dulu. “Saya memasok suku cadang orisinal, sementara konsumen banyak mencari barang kualitas nomor dua alias kw,” tutur dia.

Syakir pun harus menutup usaha bengkelnya di bulan keenam. Beruntung, dia bisa melunasi pinjaman modal dari bank, dengan menyisihkan gajinya sebagai jurnalis foto. Hanya, dia merasakan profesi ini tak memberinya banyak waktu bersama keluarga. Kondisi inilah yang kembali memaksanya berpikir untuk kembali terjun ke dunia usaha.

Pada 2010, Syakir memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Dengan uang pesangon, dia mencoba bertanam sengon di Purwakarta. Usaha agribisnis ini kembali menemui jalan buntu, karena ternyata dia tertipu. Dari pengalaman itu, dia menyimpulkan usaha tak boleh jauh dari rumah dan harus dikerjakan sendiri.

Sisa pesangon yang ada pun dipakai untuk memulai bisnis kuliner dengan membuka warung nasi di dekat rumahnya. Namun, lagi-lagi Dewi Fortuna tak berpihak. Pembeli yang datang ternyata tak sesuai dengan pasar yang diincar. “Padahal, saya sudah sebar brosur, menu juga beragam, tetap saja yang banyak datang para buruh bangunan,” ujar dia.

Meski berulang kali gagal, Syakir tak mengenal putus asa dalam kamusnya. Alhasil, ketika istrinya, Wahyuni, mengajak mengambil franchise minuman bubble, Syakir tetap bersemangat. Bahkan, dia sampai menggadaikan sepeda motor dan perabot rumah, untuk memodali bisnis ini.
Bikin sendiri

Di bisnis minuman inilah, keberuntungan mulai menyapanya. Setiap hari, selalu ada antrean pembeli di gerainya yang dibuka di teras Alfamart. Dia pun cepat belajar. Ketika menganggap pemakaian sirup dan krim dianggap menggerus keuntungan, Syakir segera mencari alternatif lain.

Dari berbagai riset, dia akhirnya menemukan produsen bubuk minuman (powder drink) untuk bubble. Syakir segera mengajaknya bekerjasama. Selain berjualan minuman bubble drink untuk gerainya yang sudah tak terikat waralaba, dia juga mulai menjadi pengecer powder drink.

Dari bisnis baru sebagai pengecer, Syakir melihat besarnya potensi bisnis. Dia tertarik untuk ikut terjun menjadi produsen. “Saya cari orang yang bisa buat produk ini,” kenang dia. Dari internet, Syakir menemukan seseorang yang menguasai bidang ini. Tanpa ragu, dia segera mengajaknya kerjasama dengan konsep makloon. “Saya menjadi distributor tunggal dengan mendirikan CV Jakarta Powder Drink,” ujar dia. Sayang, belum genap setahun, sang partner mengingkari kesepakatan dengan menjual produknya juga ke pihak lain.

Belajar dari pengalaman ini, akhirnya Syakir mendalami cara pembuatan powder drink supaya bisa produksi sendiri. Kebetulan, dia menemukan seseorang yang ahli meramu resep bubuk minuman ini dan belajar padanya selama delapan bulan. Selama masa belajar ini, ia mengajukan pinjaman ke bank senilai Rp 400 juta.

Akhirnya, awal 2013, Syakir mulai produksi sendiri. Berbeda dengan produk yang pernah ia jual, produk yang diracik sendiri oleh Syakir bisa diseduh dengan air panas dan dingin. Syakir pun mengklaim, rasa bubuk minumannya lebih enak karena dia memang ingin mengutamakan kualitas.

Soal rasa itulah yang menjadi satu-satunya kendala saat masa peralihan dari pemasoknya yang lama dan berganti ke produk buatannya. “Karena ada beberapa perbedaan rasa, karena bikinan saya rasanya lebih tajam. Akhirnya konsumen menerima,” tutur Syakir.

Kini, Jakarta Powder Drink memiliki 40 varian rasa. Bukan hanya soal rasa dan varian rasa, dalam mengelola usaha ini, Syakir juga mengutamakan brand. “Belajar dari para CEO perusahaan besar yang pernah saya temui ketika jadi wartawan,” ucap dia.

Di pabriknya yang terletak di Pondok Cabe, Syakir memproduksi sekitar 6 ton bubuk minuman setiap bulan, yang dijual dengan harga Rp 60.000 per kilogram. Produknya juga tersebar di berbagai kota melalui 9 distributor.

 

Ingin jadi pengusaha, bukan pedagang

Menekuni passion bukan perkara yang mudah. Namun seiring dengan waktu, bila dijalani dengan serius, keberhasilan bisa diraih. Itulah yang dialami M. Syakir. Sejak duduk di bangku kuliah, semangatnya menggebu-gebu untuk menjalani passion sebagai pengusaha.

Berbagai kendala tak memupuskan niatnya untuk meniti jalan menuju sukses. Berkali-kali gagal dalam berusaha tak sekalipun mematikan semangatnya. Justru, Syakir mau terus mencoba usaha baru hingga bisa berhasil seperti saat ini.

“Saya tak mau sekadar menjadi pedagang, tapi ingin menjadi pengusaha,” ujarnya. Menurut Syakir, pengusaha harus siap menghadapi berbagai risiko. Selain itu, pengusaha harus bisa memberi nilai tambah. Dus, pengusaha merupakan individu yang kreatif.

Beda halnya dengan pedagang yang ketika menghadapi hambatan langsung berhenti karena tak mau mengambil risiko. “Pedagang biasanya hanya cari keuntungan, tapi tidak membuka peluang bagi orang lain untuk mendapatkan untung,” kata dia.

Sukses menjadi salah satu produsen bubuk minuman tak membuat Syakir berpuas diri. Anak ke-7 dari 8 bersaudara ini sudah punya target dalam empat tahun mendatang. Ia ingin perusahaannya, Jakarta Power Drink, bisa mendirikan kafe yang setara seperti Starbucks. “Kalau orang luar negeri bisa bikin kafe yang sedemikian sukses, mengapa kita tidak bisa bikin sendiri?” tandasnya. Menurut Syakir, dari sisi variasi jenis minuman, ia sudah bisa membuka kafe. Namun, bersama sang istri, ia masih menggodok kafe ini.

Pasangan suami istri itu sedang menyusun aneka makanan yang akan menghiasi etalase kafenya. “Sudah ada beberapa menu makanan ringan yang bisa kami buat. Kalau sudah ada 10 menu saya rasa, kafe ini siap beroperasi,” ungkap dia.
Sumber: KONTAN.co.id

Komentar Anda
31 recommended
comments icon 0 comments
209 views
bookmark icon

Write a comment...