Usahanya Berkembang Sejak Meminjam Modal Ke Bank


Tak pernah terbayang pada diri Jajat Sudrajat kalau usahanya berjualan oleh-oleh makanan khas Bandung akan berkembang hingga saat ini. Lelaki paruh baya ini mampu mengembangkan usaha yang mulanya memiliki satu kios dan kini telah berkembang menjadi  lima kios.

Usaha yang dijalani urang Bandung ini cukup sederhana, yakni sebagai pedagang keripik tempe, pisang sale, dodol dan aneka oleh-oleh makanan khas Bandung. Dari usahanya ini, ia mampu menghidupi keluarganya. Sebuah rumah, mobil pribadi, dan mobil operasional menjadi bukti kesuksesannya dalam menjalani usahanya itu.

Kesuksesan yang diraih pria yang sering disapa Kang Jajat  ini tak lepas dari keuletan dan kerja kerasnya melakoni usaha. Disamping itu, ia pun mengakui kalau kesuksesannya berkat bantuan sebuah bank mikro di Bandung yang selalu memberikan dukungan penuh terhadap usahanya itu.

“Usaha saya bisa berkembang seperti ini atas bantuan dan kerjasama BPR. Tanpa dukungan BPR Sarikusuma tentu saja usaha saya tidak akan seperti ini,” ujarnya.

Jajat membeberkan kalau dukungan yang diberikan bank mikro tersebut tak hanya sebatas memberikan pinjaman, namun juga memberikan pembinaan usaha. Baik tentang cara mengatur pinjaman untuk usahanya, memotivasi dalam usahanya, serta memberi masukan positif terhadap usahanya agar tetap lancar.

Perkenalan Jajat dengan usaha jualan oleh-oleh khas Bandung berawal dari seringnya berjualan di tempat pamannya kala masih muda. Paman Jajat memperkenalkan seluk beluk usaha memproduksi keripik tempe dan pisang sale.

Pada saat ikut pamannya itu, ia diajarkan dari mulai menggoreng keripik tempe, menggoreng pisang sale lalu mengemasnya yang kemudian mengirim produk usahanya itu pada pelanggan yang telah memesannya. “Sekolah dulu sama paman, diajarkan cara menggoreng yang matang, mencari bahan baku sampai mengemasnya,” kenangnya.

Merasa sudah cukup bekal ilmunya dalam menjalani “sekolah” sama pamannya, lantas Jajat memberanikan diri untuk memulai usaha sendiri. Berbekal uang tabungan yang dimilikinya, ia memulai usaha serupa yang dilakukan pamannya dengan membuka kios kecil-kecilan.

Perlahan namun pasti, usaha dagangan keripik tempe dan pisang sale berkembang. Bahkan di kios STPD Jatinangor, karena kebanyakan mahasiswanya dari luar kota, kios tersebut akan lebih ramai pada saat menjelang wisuda.

Ini terjadi lantaran karena banyak keluarga wisudawan yang sengaja datang untuk memborong keripik singkong dan pisang sale sebagai oleh-oleh di kampung halaman keluarga wisudawan STPDN. “Banyak keluarga mahasiswa STPDN yang datang ke wisuda mampir untuk membeli oleh-oleh makanan buat keluarganya di kampung halaman,” ujar Jajat dengan bangga karena usahanya banyak juga diminati orang luar daerah.

Dengan mulai ramainya pengunjung ke kios usahanya, ramai juga pesanan yang harus dilayani Jajat. Adanya pesanan bukan membuat Jajat senang,  namun dari sinilah kegelisahan dalam usaha mulai menghinggapinya.

Satu sisi Jajat ingin memenuhi pesanan yang mulai ramai, sisi lainnya terkendala modal untuk biaya produksi. Ia pun berpikir dan bertanya sama temannya dengan mencoba mencari pinjaman modal usaha.

Atas anjuran seorang teman, Jajat disarankan untuk mencoba mencari pinjaman modal usaha pada sebuah BPR yang memang menjadi mitra UKM dalam pengembangan usaha.  Ada sedikit keraguan ketika Jajat mengajukan pinjaman, lantaran ia tak memiliki jaminan untuk pengajuan kredit tersebut.

Namun dengan keberanian dan niatnya, Jajat menceritakan jenis usaha dan lokasi usahanya. Melihat lokasi dan kondisi usaha Kang Jajat yang potensial dan prospektik, tak menjadi soal bagi pihak BPR untuk memberikan pinjaman usaha. 

Alhasil, kekhawatiran Jajat tidak bisa melayani pesanan pelanggannya dapat teratasi. Ia pun mulai semangat dalam menjalani usaha. Bahkan, ia yakin usahanya akan makin berkembang karena dari sisi permodalan, BPR yang menjadi mitra usahanya selalu setia membantu.

“Bahkan sering kali pihak BPR nawarin kapan mau mengajukan pinjaman lagi? Saya pun jawab, nanti kalau cicilannya sudah lunas,” cerita dia.

Dalam pengembangan usahanya, Jajat pun sebenarnya telah melakukan ekspansi dengan membuka cabang di daerah Bekasi. Namun upaya pengembangan usahanya ini tak berjalan mulus. Keripik tempe dan pisang sale yang menjadi khas usaha oleh-oleh makanan khas Bandung ini kurang diminati.

“Mungkin karena Bekasi daerah panas jadi kurang pembelinya. Daripada ongkos produksi tidak sebanding dengan pendapatan dan hanya buat menggaji karyawan maka mending tutup saja kios yang di Bekasi,” papar Jajat dengan logat sundanya yang kental.

Keyakinan Jajat akan berkembangnya usaha dan kehidupannya ternyata terbukti. Kini, kios usahanya di pojok terminal Cileunyi Bandung dengan lebel O’Mirasa yang awalnya sewa telah menjadi hak miliknya. Bahkan, kios yang dimilikinya berjumlah tak cuma satu namun telah berkembang menjadi lima kios dengan jumlah karyawannya 10 orang.

Tak cuma itu saja, sebuah mobil buat operasional usaha dan mobil pribadi telah dimilikinya. “Alhamdulillah, ini berkat kerja keras dan keuletan kita dan juga kerjasama dengan semuanya,” ujarnya sambil bersyukur. (ers)
 

Komentar Anda
comments icon 0 comments
131 views
bookmark icon

Write a comment...