Warga Difabel Didorong Untuk Jadi Wirausahawan


Bupati Jember Faida mengatakan Pemerintah Kabupaten Jember akan mendorong warga berkebutuhan khusus atau kaum difabel untuk menjadi wirausahawan yang mandiri.

"Mereka yang sudah selesai mengikuti program keterampilan akan digabungkan menjadi kelompok-kelompok yang akan kita bina menjadi wirausahawan baru yang mandiri," kata Faida usai memantau pelatihan keterampilan yang diikuti 30 kaum difabel di Jember, Senin (28/3).

Sebanyak 30 orang berkebutuhan khusus yakni tuna daksa, tuna rungu, dan tuna wicara mengikuti pelatihan keterampilan menjahit dan merias di BLKI Pemprov Jatim di Jember selama sepekan lebih.

Menurut dia, kaum difabel yang sudah mendapatkan pelatihan keterampilan akan diberikan sarana berupa mesin jahit dan perlengkapan rias dari Pemprov Jatim, selanjutnya Pemkab Jember akan terus mendorong untuk memberdayakan mereka hingga menjadi wirausahawan yang mandiri dan sukses.

"Pemkab Jember juga akan membantu dalam hal pemasaran karya difabel, sedangkan untuk mereka yang melakukan keterampilan tata rias akan dibantu tempat salon yang unik, sehingga tidak kalah dengan salon kecantikan lainnya," tuturnya.

Faida juga menjanjikan kelompok difabel yang sudah diberi keterampilan menjahit akan diberi sebagian pesanan kaos gerak jalan Tajemtra, sehingga dapat memberikan semangat untuk mereka yang berkebutuhan khusus terus berkarya.

"Dalam 22 janji kerja saya bersama Pak Wakil Bupati Jember berkomitmen untuk peduli terhadap kaum difabel, sehingga diharapkan Jember sebagai kota yang ramah terhadap kaum difabel," katanya menambahkan.

Kendati demikian, ia mengakui Kabupaten Jember belum menjadi kota yang ramah terhadap warga berkebutuhan khusus karena sejumlah sarana umum di lingkungan Pemkab Jember belum bisa diakses oleh difabel, sehingga hal tersebut menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi Pemkab Jember untuk segera mewujudkan.

"Mudah-mudahan dalam waktu dekat, Jember bisa menjadi kota ramah bagi kaum difabel karena itu komitmen kami dalam 22 janji kerja," ujarnya.

Sementara salah seorang difabel, Siti Qomariah mengaku sudah menekuni keterampilan menjahit lima tahun lalu dan sudah memiliki pelanggan yang merupakan warga sekitar rumahnya di Desa Gading Rejo, Kecamatan Umbulsari.

"Dengan pelatihan yang dilakukan Dinas Sosial dan BLKI, saya terbantu karena mendapatkan mesin jahit yang bisa saya gunakan untuk bekerja sehari-hari di rumah," ucap warga yang kehilangan dua kakinya tersebut. (ant)

Komentar Anda
19 recommended
comments icon 0 comments
222 views
bookmark icon

Write a comment...