Bisnis Tempat Rekreasi di Bekasi Prospektif


Bekasi – Wisata atau rekreasi merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi siapapun. Dengan berwisata, pikiran akan kembali segar dan banyak pengalaman-pengalaman seru yang didapat.

Kini wisata adalah kebutuhan untuk semua kalangan masyarakat, baik itu orangtua atau anak-anak. Sebab, selain stimulasi bagi kesehatan juga akan memberikan dampak positif bagi perekonomian.

Karena itu, sejak dua tahun silam Dinas Pariwisata Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, berupaya mengoptimalisasi 12 destinasi wisata untuk meningkatkan devisa lokal. Bekasi menilai pariwisata sebagai penyumbang retribusi daerah yang menjanjikan.

“Destinasi itu terbagi menjadi dua golongan, yaitu wisata alam dan kuliner khas daerah setempat,” kata Agus Trihono, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bekasi, kala itu.

Ke-12 tempat wisata tersebut antara lain yaitu Taman Buaya Indonesia Jaya, Waterboom Lippo Cikarang, Gedung Juang 45, dan Saung Ranggon yang merupakan wisata sejarah. Kemudian, Danau Cibeureum, Pantai Muara Gembong, Muara Beting, Muara Bendera, dan juga Kuliner Restoran Kartini Cikarang, Rumah Makan Saung Wulan.

Namun melihat besarnya jumlah penduduk di salah satu daerah penyangga Jakarta tersebut, kehadiran ke-12 tempat rekreasi tersebut tentu tidak akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus bertambah, seiring taraf ekonomi yang kian meningkat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk Kabupaten Bekasi saat ini mencapai 3,3 juta jiwa dan Kota Bekasi 2,6 juta, terjadi peningkatan sekitar 1 juta dalam lima tahun terakhir.

Selain sudah menjadi kebutuhan masyarakat, dengan jumlah penduduk sebesar itu tentu menjadi potensi tersendiri bagi pengembangan bisnis tempat rekreasi. Tidak heran, bila belakangan hampir semua pengembang properti skala menengah dan besar di dua wilyah Jawa Barat tersebut menawarkan tempat rekreasi dengan berbagai macam permainan.

Awalnya, developer hanya memperuntukkan tempat rekreasi sebagai benefit kawasan yang dipasarkan. Tapi seiring besarnya potensi cuan yang dimiliki, maka sebagian dari mereka memilih untuk mengkomersilkan bagi pengunjung dari luar kawasan. Sebagai ilustrasi, rata-rata omset wahana bermain anak skala kecil di Bekasi, mencapai Rp500 juta per bulan dengan margin keuntungan 30%.

Salah satunya, PT Alamindo Trulynusa (ALSA) yang menyediakan fasilitas waterpark Go! Splash pada area perumahan Panjibuwono Residence, kawasan hunian seluas 200 hektare di Jl. Pertamina, Desa Kedung Pengawas, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Wisata air Go! Splash dilengkapi beragam wahana seperti kolam renang semi-olympic, water slide setinggi 12 meter, pelangi kabut air, ember tumpah, kafe, dan beragam fasilitas modern lain.

Promotion & Marketing Manager ALSA Albert Permana mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan akan tempat wisata di Panjibuwono Residence, ALSA telah resmi melakukan soft opening waterpark Go! Splash, Rabu (3/4). “Selain diperuntukan bagi sarana rekreasi seluruh penghuni Panjibuwono Residence, secara resmi hari ini juga kami buka untuk umum,” ungkapnya, di sela-sela acara peluncuran.

Albert mengklaim, Go! Splash merupakan wahana bermain air untuk anak terbesar di kawasan utara Bekasi, dengan total area sekitar 2 hektare dan tarif yang kompetitif dibanding tempat lain. “Selama masa promo, sejak hari ini hingga satu bulan ke depan kami menawarkan harga tiket masuk spesial Rp30 ribu, yang berlaku untuk dua orang,” imbuhnya.

Dijelaskan, sejak 2013 silam, Panjibuwono Residence telah merilis empat klaster hunian, yaitu Malioboro (640 unit), Sriwidari (380 unit), Brawijaya (570 unit), dan Casablanca –  klaster real estate dengan standar terbaik di Panjibuwono Residence untuk memenuhi kebutuhan segmen pasar rumah premium.

Klaster Casablanca terletak di area mega klaster, “The Cluster”, seluas 18 hektar berlokasi  dekat area komersil di boulevard utama setelah melewati gerbang utama dan water park Go! Splash. Kawasan “The Cluster” ini akan dikembangkan empat klaster. Klaster pertama Casablanca seluas 3 hektare berisi 280-an unit rumah satu dan dua lantai yang menawarkan tiga pilihan tipe, terdiri 45/72 (Rp469 jutaan) serta rumah dua lantai tipe 53/78 (Rp560 jutaan) dan tipe 70/91 (Rp729 jutaan).

“Harga tersebut jauh lebih terjangkau dibanding tipe sejenis pada kawasan hunian sekitar lainnya, terutama di tengah Kota Bekasi, bedanya bisa sekitar 200 jutaan. Panjibuwono Residence merupakan pilihan bagi masyarakat yang ingin memiliki rumah dengan tipe lebih luas, serta fasilitas lengkap dan nyaman, namun harga lebih terjangkau,” jelasnya.

Sebagai klaster premium, pengembangan klaster Casablanca adalah penyempurnaan dari tiga klaster sebelumnya. Jalan boulevard utama klaster dan lingkungan klaster misalnya dibuat  serba lebar dengan RoW masing- masing 10 meter dan 8 meter, sedangkan jalan boulevard utama perumahan 24 meter.

Selain itu, tersedia juga taman cukup luas yang sekaligus difungsikan untuk jogging track yang tersambung ke jalan di dalam klaster. Di dalam klaster dilengkapi juga dengan jaringan internet fiber optic, kabel utilitas under ground, dan jaringan air bersih pam.

Accessibility Paling Lengkap

Sementara itu, Direktur ALSA Bryan Soedarsono mengungkapkan, saat ini Bekasi memiliki ketersediaan infrastruktur transportasi (accessiblity) paling lengkap dibanding kota satelit lainnya, seperti Tangerang, Bogor, dan Depok. Pembangunan proyek elevated tol Jakarta-Cikampek, tol Cilincing-Cibitung, light rapid transit (LRT), perluasan jalur serta pemambahan stasiun commuter line, dan kereta cepat Jakarta-Bandung adalah bukti nyatanya.

“Ketersediaan sejumlah infrastruktur transportasi ini tentu semakin memudahkan mobilitas masyarakat dari dan menuju Ibukota Jakarta, sekaligus membuka potensi Bekasi sebagai wilayah paling prospektif bagi pengembangan bisnis property development. Pun tingginya kebutuhan rumah terjangkau bagi masyarakat yang beraktivitas di Jakarta serta keberadaan kawasan industri dengan ribuan karyawan semakin memperkuat daya pikat Bekasi di mata property developer,” ungkapnya.

Menurut dia, kian lengkapnya ketersedian infrastruktur transportasi tersebut dipastikan akan berdampak positif terhadap bisnis properti di wilayah Bekasi. Kini, akses dari pusat kota menuju wilayah Bekasi pun semakin mudah. “Masyarakat punya banyak pilihan penggunaan alat transportasi untuk menunjang aktivitas kesehariannya, bisa mengendarai mobil pribadi atau bus melalui akses tol, naik kereta pada stasiun commuter line, bahkan LRT. Ini jadi value added tersendiri bagi penghuni Panjibuwono Residence,” pungkas Bryan.

Komentar Anda
2 recommended
comments icon 0 comments
7 views
bookmark icon

Write a comment...