Diskusi Mikro Forum Syariah: Perbankan Siap Kolaborasi Dengan Fintech


Jakarta – Semakin meningkatnya kemajuan teknologi mendorong perbankan mengutamakan proses yang lebih cepat dan praktis yang memberikan banyak kelebihan ke nasabah, salah satunya dengan bekerjasama dengan perusahan finance technology (finntech).

“Mmau tidak mau bank itu harus berkolaborasi dengan fintech. Mau gak mau harus ikuti tren. Termasuk perbankan syariah. Bank harus terus mengembangkan diri sesuai teknologi agar bisa mengikuti kebutuhan masyarakat,” kata Direktur Utama BCA Syariah John Kosasih di acara diskusi Kolaborasi Bank Syariah-Fintech Memacu Pertumbuhan UKM yang digelar di Halal Expo 2019, Jakarta Convention Center, Jumat (28/6/2019).n

Menurut John Kosasih, perkembangan yang terjadi saat ini seperti yang dikatakan oleh Bill Gates: “Banking is necessary, bank are not”.

Artinya transaksi perbankan semakin sedikit dilakukan di kantor bank. Kondisi seperti ini sudah dialami BCA. Dari 20 juta transaksi keuangan yang terjadi dalam sehari tapi hanya 2% saja atau sekitar 400.000 transaksi, sisanya transaksi keuangan terjadi di luar kantor kacang.

“Ada transaksi yang pakai ATM, internet banking, mobile banking dan lainnya,” ujarnya.

Dia menambahkan, BCA Syariah siap berkolaborasi dengan Fintech syariah yang ada, hanya saja harus yang sudah mendapat legalitas dari OJK.

Sementara itu, pengamat ekonomi syariah Mohammad Solihin yang juga hadir dalam diskusi yang diinisiasi oleh Mikro Forum Syariah ini, mengungkapkan bahwa masyarakat harus pintar-pintar dalam memilih dan memutuskan menggunakan jasa salah satu fintech. Sebab di era teknologi sekarang bertumbuhan banyak fintech. 

“Jangan tergiur dengan fintech yang menawarkan pinjaman dengan iming iming prasyarat yang terlalu mudah. Sebab kalau seperti ini biasanya fintech tersebut nantinya bisa menjerat nasabah dengan bunga yang tinggi,” kata Mohammad Solihin

Menurutnya kalau berbicara fintech maka dikelompokkan jadi dua yakni fintech syariah dan fintech non syariah. Namun dia belum tahu persis apakah fintech syariah sudah mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau belum. Sebab hingga saat ini baru 7 fintech yang mendapatkan izin.

“Apakah fintech itu sudah diotoritasi belum, ini jadi PR pemerintah, bagaimana proses fintech syariah bisa mudah berkembang dan dikelola dengan baik,” kata dia.

Berdasarkan data, sejauh ini baru ada 7 fintech lending yang sudah memperoleh izin legal dari OJK. Yakni, Danamas, Investree, Amartha, Dompet Kilat, KIMO, Tokomodal, dan Uang Teman. Selain 7 fintech lending yang legal itu, ada sebanyak 106 fintech yang sudah terdaftar di OJK

“Jadi saya menyarankan teman-teman pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) jangan menggunakan fintech denganpersyaratan yang sangat mudah tapi pilihnya fintech yang prasyaratnya paling sulit, kredibel dan legal,” kata dia.

Sementara itu, Direktur Bidang Inovasi Produk, Pendalaman Pasar, dan Pengembangan Infrastruktur Sistem Keuangan Syariah KNKS Ronald Rulindo mengatakan, untuk menciptakan ekosistem keuangan syariah di Indonesia tidak semudah itu karena masih banyak masyarakat awam yang masih belum mau switching atau beralih ke teknologi.

“Tapi memang mau tidak mau, kita harus mengikuti perkembangan teknologi.
Intinya ke depan kami (KNKS) ingin menciptakan ekosistem keuangan syariah, dengan menggunakan model suatu agensi. Sebab kalau untuk membangun kantor cabang biayanya sangat mahal. Sehingga nantinya transaksi keuangan bisa dilakukan lewat agensi-agensi keuangan syariah ini,” kata Ronald.

Ronald menyarankan kepada masyarakat kalau memang ingin beralih dari perbankan kovensional ke perbankan syariah maka bisa dilakukan pertama-tama dengan langkah awal yaitu mengalihkan tabungannya atautransaksi keuangan ke perbankan syariah. “Awali dengan menyimpan dan menggunakan jasa keuangan dari perbankan syariah,” pungkas Ronald

Komentar Anda
3 recommended
comments icon 0 comments
6 views
bookmark icon

Write a comment...