Studi Visa: Masyarakat Indonesia Makin Percaya Diri Bepergian Tanpa Tunai


Jakarta – Mayoritas masyarakat Indonesia ternyata semakin siap untuk menghadapi masa depan dengan transaksi tanpa uang tunai. Hasil studi Consumer Payment Attitudes 2018 yang dirilis Visa mencatat, 8 dari 10 (82%) responden di Indonesia menyatakan bahwa mereka telah mencoba bepergian tanpa uang tunai.

“Dari hasil studi ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin percaya diri untuk bepergian tanpa tunai, dengan keamanan informasi pribadi menjadi fokus utama mereka,” ujar Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia, Riko Abdurrahman dalam pemaparan hasil studi Consumer Payment Attitudes 2018 di Hotel Hermitage, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (28/3/2019).

Riko mengatakan, saat ini semakin banyak masyarakat Indonesia yang memiliki akses terhadap pembayaran nontunai sehingga lebih percaya diri bepergian tanpa tunai.

“Menjalani gaya hidup nontunai menjadi lebih mudah dan menarik bagi masyarakat Indonesia karena banyaknya opsi cara membayar, mulai dari pembayaran menggunakan kartu, teknologi nirkontak, hingga yang berbasis kode QR,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, konsumen juga menginginkan proses pembayaran yang lebih cepat, mudah dan aman yang mendorong mereka semakin mengurangi penggunaan uang tunai dan memulai gaya hidup nontunai.

Karena itu, Visa berkomitmen menghadirkan teknoIogi pembayaran dan keamanan digital terbaru, seperti Visa Contactless dan Token Service, agar konsumen dan pelaku usaha di Indonesia dapat semakin percaya diri saat bertransaksi.

“Untuk Token Service kita akan segera kita hadirkan dengan salah satu e-commerce,” jelas Riko.

Riko Abdurrahman mengatakan, studi menunjukkan pertumbuhan mobile commerce yang tinggi dimana 93% atau hampir seluruh responden  semakin merasa nyaman untuk melakukan pembayaran di ponsel mereka. Hampir semua konsumen Indonesia saat ini bertransaksi menggunakan ponsel melalui sebuah aplikasi bukan web browser.

Keamanan bertransaksi tetap menjadi prioritas utama masyarakat Indonesia. Studi ini menyebutkan, 9 dari 10 responden mengatakan bahwa mereka memastikan keamanan informasi pribadi saat bertransaksi menggunakan ponsel.

Saat ditanya mengenai masa depan pembayaran, Rico menyebutkan, masyarakat lndonesia menunjukkan minat yang tinggi untuk menggunakan perangkat pembayaran wearables (76%), di mana smartwatch dinilai sebagai wearables yang paling nyaman dipakain untuk melakukan pembayaran (53%).

“Selain itu, 69% masyarakat Indonesia juga berminat menggunakan teknologi biometrik untuk autentikasi pembayaran, di mana 60% responden menilai teknologi pemindaian jari sebagai opsi yang paling nyaman,” jelas Rico.

Rico menambahkan, hasil studi juga menyebutkan, 41% masyarakat Indonesia meyakini akan bisa mewujudkan masyarakat tanpa tunai dalam waktu tiga tahun kedepan. Hal ini meningkat dibanding dengan hasil studi tahun lalu dimana mayoritas responden memperkirakan bahwa masyarakat tanpa tunai akan terwujud dalam kurun waktu 8 hingga 15 tahun.

Studi Consumer Payment Attitudes 2018 dilakukan di 8 negara Asia Tenggara, 6 diantaranya dilakukan secara online termasuk Indonesia, dan dua lagi, Myanmar dan Kamboja dilakukan secara face to face. Di Indonesia, studi ini melibatkan 500 responden di Indonesia dengan rentang usia 18 sd 35 tahun dan berpenghasilan diatas Rp. 3 juta.

Secara keseluruhan, studi ini juga menunjukkan jumlah konsumen yang melek digital semakin bertumbuh di Asia Tenggara. Untuk Indonesia, ini  mengindikasikan masyarakat semakin menyadari manfaat pembayaran nontunai dan tertarik dengan masa depan tanpa tunai.

“Berdasarkan studi Visa Consumer Payment Attitudes, 77% masyarakat Indonesia memperkirakan akan semakin sering menggunakan pembayaran nontunai dalam jangka waktu 12 bulan ke depan,” ujarnya.

Berikut adalah temuan penting lainnya dari studi tersebut:

Semakin sedikit masyakarat Indonesia yang membawa uang tunai dalam jumlah besar karena mereka sudah berpindah ke pembayaran elektronik dan mulai meninggalkan uang tunai (82%), serta merasa lebih aman menggunakan kartu pembayaran (77 %) dan ingin pembayaran secara fisik dihilangkan (68%).

7 dari 10 masyarakat Indonesi tertarik untuk melakukan pembayaran menggunakan kartu nirkontak, sementara 79% tertarik dengan pembayaran nirkontak berbasis mobile. Mayoritas menunjukn minat untuk menggunakan pembayaran nirkontak di supermarke (73%), toko ritel (71%) dan gerak makanan cepat saji (64%). Kecepatan, kenyamanan, dan keamanan adalah alasan utama saat menggunakan pembayaran nirkontak.

82% masyarakat Indonesia merasa tertarik menggunakan pembayaran berbasis kode QR, Iebih tinggi dibandingkan dengan hasil studi tahun lalu yang hanya 50%. Responden menilai pembayaran berbasis kode OR dapat menghemat waktu, mudah digunakan, tidak ribet, aman, dan menyenangkan.

Komentar Anda
4 recommended
comments icon 0 comments
14 views
bookmark icon

Write a comment...